Beranda > Tanya-Jawab > Pernikahan Tanpa Wali Pengantin Pria

Pernikahan Tanpa Wali Pengantin Pria

Ass. wr. wbr.

Pak ustadz, saya ingin menanyakan hukum pernikahan di mana tidak ada perwalian dari pihak laki-laki. Hal ini disengajakan karena beberapa hal (ada konflik keluarga). Sementara dari pihak perempuan sudah memenuhi syaratnya. Pernikahannya didasarkan untuk menghindari dosa yang berkepanjangan di mana kedua pasangan sudah siap menikah, namun terpaksa dari pihak lelaki tidak bisa menyertakan kerabatnya dalam pernikahan itu. Bagaimana hukumnya pernikahan yang seperti ini?

Terima kasih Wsslm.wr.wbr.

Utama
uta_ma at eramuslim.com
Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Kalau kita bicara tentang hukum halal dan haram, tanpa memperhatikan masalah-masalah yang lainnya, memang hukumnya halal.

Mengingat di dalam sebuah akad nikah, yang dibutuhkan hanyalah wali dari pihak wanita. Sedangkan wali dari pihak pria, sama sekali tidak dibutuhkan. Toh, yang akan melakukan akad nikah adalah pengantin pria dengan wali dari pihak pengantin wanita.

Wali pengantin wanita mengucapkan ijab, yaitu lafadz, “Aku nikahkan kamu (Fulan bin Fulan) dengan puteriku (Fulanah) dengan maskawin ini dan itu secara tunai.” Kemudian pengantin pria akan mengucapkan lafadz qabul, yaitu, “Saya terima nikahnya puteri bapak yang bernama (Fulanah) dengan maskawin tersebut secara tunai.”

Inilah yang namanya akad nikah, sebuah akad atau pernyataan antara dua orang saja. Kalau peristiwa itu disaksikan oleh minimal dua orang saksi laki, muslim, aqil, baligh, maka akad itu sah. Pernikahan sudah terjadi dan pasangan itu sudah boleh melakukan hubungan suami isteri.

Jadi kalau boleh kita simpulkan secara ekstrim, untuk halalnya sebuah hubungan suami isteri, hanya dibutuhkan 4 orang saja: suami, wali wanita dan 2 orang saksi.

Namun hidup kita ini tidak melulu hanya dipertimbangkan semata-mata berdasarkan hitam putih hukum fiqih. Tentunya pertimbangan-pertimbangan lain tidak bisa dinafikan begitu saja. Misalnya hubungan baik dengan keluarga, tetangga, serta kebiasaan-kebiasaan yang selaras dengan syariah namun sudah menjadi bagian dari kehidupan rutin.

Termasuk juga kehadiran sanak famili dan keluarga, wabil khusus orang tua pengantin pria, kalau memang memungkinkan. Meski tidak ada kaitannya dengan urusan sah tidaknya akad nikah, namun tidak ada salahnya bila semua hal itu ikut dijadikan bagian dari perhatian.

Wallau a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

  1. rio
    Februari 24, 2009 pukul 1:42 am

    trus kalo nikah tersebut sah,bearti sang mempelai lelaki telah durhaka kpd orang tua nya,karna misalkan orang tua nya tidak menyetujui prnikahan tersebut,klo begini gmn ustad?

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: